Merencanakan Pameran
Rencana sebuah pameran perlu dirancang secara sistematis dan
logis agar pada waktu pelaksanaannya berjalan lancar. Tanpa
perencanaan yang sistematis sebuah pameran tidak dapat berjalan
lancar sesuai dengan yang diharapkan. Pelajari tahapan umum
dalam perencanaan penyelenggaran pameran seni rupa berikut ini.
1. Menentukan Tujuan
Langkah awal yang harus diperhatikan dalam menyusun program
pameran adalah menetapkan dulu tujuan pameran tersebut.
Penyelenggaraan pameran dapat saja bertujuan untuk menggalang
dana yang bersifat komersial, sosial atau kemanusiaan. Cobalah
diskusikan dengan guru dan teman kalian tujuan penyelenggaraan
yang paling tepat untuk kegiatan pameran dalam pekan seni akhir
semester atau tahun ajaran yang akan datang.
2. Menentukan Tema Pameran
Tema pameran ditentukan setelah tujuan pameran dirumuskan.
Penentuan tema berfungsi untuk memperjelas tujuan yang akan
dicapai, dengan adanya tema dapat memperjelas misi pameran
yang akan dilaksanakan. Setelah rumusan tujuan dan tema telah
kita tetapkan, langkah berikutnya adalah menyusun kepanitiaan
pameran.
3. Menyusun Kepanitiaan
Untuk mendukung kelancaran penyelenggaraan pameran agar
berjalan dengan lancar perlu dibuat kepanitiaan dalam sebuah
organisasi kepanitiaan pameran. Penyusunan struktur organisasi
kepanitiaan pameran disesuaikan dengan tingkat kebutuhan, situasi,
dan kondisi sekolah. Umumnya struktur kepanitiaan sebuah pameran
terdiri dari panitian inti dan dibantu dengan seksi-seksi.
Penyelenggaraan pameran seni rupa sekolah akan berjalan lancar
bila ada pembagian tugas kepanitian yang jelas. Hal ini dilakukan
agar masing-masing orang yang terlibat dalam kepanitiaan pameran
memiliki rasa tanggung jawab dan kebersamaan. Secara singkat,
berikut ini pembagian tugas kepanitiaan dalam pemaran seni rupa.
TENTANG SENI
Kamis, 18 Mei 2017
Tujuan, Manfaat, dan Fungsi
Pameran
Sebagai mahluk yang berakal dan berbudi, setiap pekerjaan yang kita lakukan seharusnya memiliki tujuan dan manfaat yang diharapkan serta dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Dalam penyelenggaraan pameran setidaknya dikenal beberapa tujuan yaitu tujuan sosial dan kemanusiaan, tujuan komersial, dan tujuan yang berkaitan dengan pendidikan. Sebuah kegiatan pameran yang diselenggarakan dalam lingkup terbatas (sekolah) maupun lingkup yang lebih luas (masyarakat) dapt diselenggarakan dengan harapan karya yang dipamerkan terjual dan dana hasil penjualan tersebut digunakan untuk kegiatan sosial kemanusiaan seperti disumbangkan ke panti asuhan, masyarakat tidak mampu atau korban bencana alam. Ada juga kegiatan pameran yang diselenggarakan dengan harapan karya yang dipamerkan terkjual dengan keuntungan yang tinggi bagi pemilik karya atau penyelenggara pameran tersebut. Dalam konteks pembelajaran atau pendidikan seni rupa, pameran diselenggarakan dengan harapan mendapat apresiasi dan tanggapan dari pengunjung untuk meningkatkan kualitas berkarya selanjutnya. Secara khusus penyelenggaraan pameran di sekolah memiliki manfaat, untuk menumbuhkan dan menambah kemampuan kalian dalam memberi apresiasi terhadap karya orang lain serta menambah wawasan dan kemampuan dalam memberikan evaluasi karya secara lebih objektif. Berkaitan dengan organisasi penyelenggarannya, penyelenggaraan pameran di sekolah bermanfaat untuk melatih kerja kelompok (bekerjasama dengan orang lain), mempertebal pengalaman sosial, melatih untuk bertanggungjawab dan bersikap mandiri serta melatih untuk membuat suatu perencanaan kerja melaksanakan apa yang telah direncanakan. Jika karya yang dipamerkan diapresiasi dengan baik, kegiatan pameran juga bermanfaat membangkitkan motivasi kalian dalam berkarya seni. (Cahyono, 1994). Kegiatan pameran memiliki fungsi utama sebagai alat komunikasi antara pencipta seni (seniman) dengan pengamat seni (apresiator). Pameran seni rupa pada hakekatnya berfungsi untuk membangkitkan apresiasi seni pada masyarakat, di samping sebagai media komunikasi antara seniman dengan penonton (Wartono, 1984).
Sebagai mahluk yang berakal dan berbudi, setiap pekerjaan yang kita lakukan seharusnya memiliki tujuan dan manfaat yang diharapkan serta dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Dalam penyelenggaraan pameran setidaknya dikenal beberapa tujuan yaitu tujuan sosial dan kemanusiaan, tujuan komersial, dan tujuan yang berkaitan dengan pendidikan. Sebuah kegiatan pameran yang diselenggarakan dalam lingkup terbatas (sekolah) maupun lingkup yang lebih luas (masyarakat) dapt diselenggarakan dengan harapan karya yang dipamerkan terjual dan dana hasil penjualan tersebut digunakan untuk kegiatan sosial kemanusiaan seperti disumbangkan ke panti asuhan, masyarakat tidak mampu atau korban bencana alam. Ada juga kegiatan pameran yang diselenggarakan dengan harapan karya yang dipamerkan terkjual dengan keuntungan yang tinggi bagi pemilik karya atau penyelenggara pameran tersebut. Dalam konteks pembelajaran atau pendidikan seni rupa, pameran diselenggarakan dengan harapan mendapat apresiasi dan tanggapan dari pengunjung untuk meningkatkan kualitas berkarya selanjutnya. Secara khusus penyelenggaraan pameran di sekolah memiliki manfaat, untuk menumbuhkan dan menambah kemampuan kalian dalam memberi apresiasi terhadap karya orang lain serta menambah wawasan dan kemampuan dalam memberikan evaluasi karya secara lebih objektif. Berkaitan dengan organisasi penyelenggarannya, penyelenggaraan pameran di sekolah bermanfaat untuk melatih kerja kelompok (bekerjasama dengan orang lain), mempertebal pengalaman sosial, melatih untuk bertanggungjawab dan bersikap mandiri serta melatih untuk membuat suatu perencanaan kerja melaksanakan apa yang telah direncanakan. Jika karya yang dipamerkan diapresiasi dengan baik, kegiatan pameran juga bermanfaat membangkitkan motivasi kalian dalam berkarya seni. (Cahyono, 1994). Kegiatan pameran memiliki fungsi utama sebagai alat komunikasi antara pencipta seni (seniman) dengan pengamat seni (apresiator). Pameran seni rupa pada hakekatnya berfungsi untuk membangkitkan apresiasi seni pada masyarakat, di samping sebagai media komunikasi antara seniman dengan penonton (Wartono, 1984).
- Pengertian Pameran
Pameran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menyampaikan ide atau gagasan perupa kepada publik melalui media karya seninya. Melalui kegiatan ini diharapkan terjadi komunikasi antaran perupa yang diwakili oleh karya seninya dengan apresiator. Hal ini sejalan dengan definisi yang diberikan Galeri Nasional bahwa: “Pengertian pameran adalah suatu kegiatan penyajian karya seni rupa untuk dikomunikasikan sehingga dapat diapresiasi oleh masyarakat luas.” (http://www.galeri-nasional.or.id) Penyelenggaraan pameran dalam konteks pembelajaran seni budaya bisa dilakukan baik di sekolah maupun di luar sekolah (masyarakat). Penyelenggaraan pameran di sekolah menyajikan materi pameran berupa hasil studi para siswa dari kegiatan pembelajaran kurikuler, dan kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada akhir semester atau akhir tahun ajaran. Sedangkan konteks pameran dalam arti luas, di masyarakat, materi pameran yang disajikan berupa berbagai jenis karya seni rupa untuk diapresiasi oleh masyarakat luas.
Menampilkan Karya Tari dengan
Iringan
Menampilkan tari Lenggang Patah Sembilan
Dinamakan tari Lenggang Patah Sembilan karena sesuai dengan pepatah
Melayu lama. “Lenggang Patah Sembilan, semut dipijak tidak mati, antan
terlan patah tiga”. Makna yang tersirat pada tarian mengungkapkan corak
tarian ini sangat lembut namun pasti. Menyatakan bahwa seseorang itu harus
memiliki budi pekerti yang halus dan luhur, tetapi mempunyai ketegasan
dalam berpikir dan bertindak. Lagu yang mengiringi tarian ini adalah Kuala
Deli, Damak, Makan Sirih, Anak Tiung, Tudung Periuk, Batu Belah, Tudung
Saji, Mas Merah , Burung Putih
Kreativitas Tari
Kreativitas yang baik merupakan aktualisasi dari pribadi yang positif. Antara
lain harus memiliki inisiatif, keberanian dan kemampuan penalaran. Dalam
menata sebuah tarian ada kalanya dimulai dari sebuah ide kemudian
dikembangkan dalam bentuk gerak namun dimulai dengan merangkai
gerakkan kemudian mencari ide, yang terpenting gerak yang dipilih harus
memiliki motivasi untuk pembentukaan tarian.
Penataan tarian dapat dimulai dengan cara eksplorasi gerak yang akan
menghasilkan gerak yang baru . Dalam pengembangan selanjutnya eksplorasi
diolah bersama ketiga elemen dasar pada seni tari yaitu gerak, waktu/ritme,
ruang / pola lantai dan tenaga.
A. Pengertian Kreativitas Tari
Kata kreatif bukan merupakan hal yang asing dan sering kita dengar. Kata
kreatif sering dikaitkan dengan membuat karya. Tari salah satu bidang yang
dapat dijadikan sebagai objek kreativitas karya seni. Dalam menyusun karya
seni sangat dibutuhkan kreativitas yang tinggi untuk menghasilkan karya seni
yang baik. Menyusun karya seni dapat menggunakan pembendaharaan
gerak tradisi yang sudah ada atau melalui pencarian dan pengembangan
gerak yang belum terpola sebelumnya yaitu dengan cara melakukan
eksplorasi gerak, improvisasi gerak dan komposisi gerak yaitu penyusunan
gerak menjadi sebuah tarian. Pengalaman dan kemampuan seseorang baik
secara teoritis maupun praktek dapat dijadikan bekal dalam mewujudkan
kreativitas yang diwujudkan dalam karya seni.
Mencipta merupakan dorongan untuk merasakan, menemukan dan
menuangkan ide-ide yang ada untuk dikembangkan. Tari tidak tercipta secara
instan, terdapat sebuah proses atau langkah-langkah yang harus ditempuh
dalam menciptakan tarian. Proses untuk mencipta atau membuat karya tari
dimulai dari mencari ide-ide, yaitu melalui eksplorasi, improvisasi, dan
pembentukan (komposisi).
B. Proses Kreativitas Tari
Pada dasarnya setiap orang memiliki potensi kreatif. Meskipun dalam kadar
yang berbeda, karena setiap orang memiliki kemampuan dan intensitas yang
berbeda. Namun kreatif dapat dikembangkan melalui pendidikan dan latihanlatihan.
Seperti menggambar jika tidak mencoba dan melakukan latihan
secara rutin maka gambar yang dapat dibuat hanya pemandangan gunung
saja. Kreatif tidak muncul begitu saja, tetapi harus melalui proses terlebih
dahulu yaitu dengan mencoba , melakukan dan berlatih secara berkelanjutan.
Kreativitas seseorang dapat dilihat dari hasil akhir kreatif yaitu karya. Hasil
akhir tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal seperti
faktor lingkungan, sarana, keterampilan, identitas, orisionalitas, dan apresiasi.
Proses kreativitas tari dapat dilakukan dengan tahapan yaitu:
• Eksplorasi gerak, yaitu proses berfikir, imajinasi merasakan dan merespon
dari suatu objek yang kita jadikan sebagai bahan karya seni.
• Improvisasi yaitu spontanitas karena memiliki kebebasan dalam gerak
dapat dilakuakan mulai gerak yang sederhana kemudian dikembangkan.
• Komposisi atau penciptaan karya seni yaitu menata, mengatur dan
menata bagian-bagian sehingga satu dengan yang lainnya saling
menjalin menjadi kesatuan yang utuh.
C. Menyusun Karya Tari
Dalam menyusun karya tari dapat mempergunakan gerak tradisi yang suadah
ada atau melalui pencarian gerak yang belum terpola sebelumnya. Perlu
diperhatikan bahwa tari sebagai ekspresi seni menuntut kemampuan lebih
dari sekedar merangkai gerak menjadi sebuah koreografi, melainkan harus
memiliki nilai estetis. Setelah gerak-gerak yang dimaksud telah terkumpul,
lalu dirangkai menjadi tarian. Menyusun gerak yang baik adalah memadukan
gerak maknawi dengan gerak murni, dirangkai sesuai dengan tema yang
sudah ditentukan dan sudah mencakup arah gerak dan arah hadap.
Arah memberikan orientasi pada tarian. Ada dua macam arah dalam menari,
yaitu:
1. Arah Hadap, menunjukkan kemana penari menghadap, ke kanan, ke kiri,
ke depan, ke belakang, menengadah atau menunduk.
2. Arah Gerak (lintas gerak), menunjukkan kemana penari akan bergerak,
membuat lingkaran, zig-zag, berjalan maju dan mundur, serong diagonal,
spiral dsb.
1. Level
Tingkat jangkauan gerak atau tinggi rendahnya gerak.
Ada tiga level dalam menari, yaitu:
a. Level Tinggi : Meloncat
b. Level Sedang : Membungkuk
c. Level Rendah : Duduk
Dari hasil pengolahan suatu gerakan atau gerak yang telah mengalami
sitisasi atau distorsi lahir dua jenis gerak tari. Pertama, gerak tari yang bersifat
gerak murni dan yang kedua bersifat gerak maknawi.
Gerak murni adalah gerak tari dari hasil pengolahan gerak yang dalam
pengungkapannya tidak mempertimbangkan suatu pengertian dari gerak tari
tersebut. Disini yang dipertimbangkan adalah faktor nilai keindahan gerak
tarinya saja. Misalnya gerak-gerak memutar tangan pada pergelangan
tangan, beberapa gerak leher seperti pacak-jangga di Jawa, dan sebagainya.
Sedangkan yang dimaksud dengan gerak maknawi adalah gerak wantah
yang telah diolah menjadi suatu gerak tari yang dalam pengungkapannya
mengandung suatu pengertian atau maksud disamping keindahannya.
Senin, 15 Mei 2017
tentang seni
Kolaborasi Seni
Dalam Permainan
Musik
A. Pengertian
Pengertian
Kolaborasi seni dapat diartikan sebagai kerjasama dua atau lebih cabang
seni. Pernahkah kalian menyaksikan kolaborasi antara musik dengan gerak
yang merupakan substansi dasar seni tari? Atau, kolaborasi antara musik
dengan imaji atau visual yang merupakan substansi dasar seni rupa? Atau,
kolaborasi antara seni musik, gerak tubuh, dan imaji atau visual dalam suatu
pertunjukan? Perhatikan gambar berikut:
Perhatikan Gambar 1! Dalam gambar itu kita dapat melihat beberapa orang
menyesuaikan gerakan mereka dengan musik yang terdengar. Hubungan
yang erat antara musik dan gerakan telah lama diketahui oleh para ahli
pendidikan musik. Bahkan Barrett, McCoy, dan Veblen (1997) pernah
mengemukakan bahwa, “melalui gerakan tubuh, bernyanyi, dan memainkan
musik, misalnya, memperlihatkan cara seseorang menggunakan organ
tubuhnya untuk mempelajari musik, internalisasi ritmik, serta menghubungkan
antara bunyi dan gerakan”.
Perlu diketahui bahwa kolaborasi beberapa cabang seni dalam permainan
musik dapat saja dilakukan. Namun, perlu diingat bahwa apa pun gerakan
atau peralatan (properti) yang digunakan dalam permainan musik, harus
disesuaikan dengan tema karya musiknya.
B. Eskplorasi Musik
Kita tentu sering melihat sekelompok orang
memainkan musik dengan menggunakan
instrumen-instrumen yang sudah kita kenal
dengan baik, seperti gitar, drum, atau
keyboard. Namun, pernahkah kalian
melihat sekelompok orang bermain musik
dengan menggunakan alat-alat perkusif
sederhana, seperti potongan bambu, botol,
bel, atau gelas berisi air yang dipukul
dengan sendok?
Pada saat ini, alat-alat perkusif sederhana sudah banyak digunakan oleh
pemain musik di banyak negara, termasuk Indonesia. Umumnya, alat-alat
sederhana tersebut digunakan oleh pemain musik untuk mengeksplorasi
beragam bunyi yang dibutuhkan dalam permainan musik mereka. Dapat
dikatakan bahwa eksplorasi bunyi merupakan salah satu usaha manusia
untuk mengekspresikan gagasan atau ide mereka tentang kehidupan melalui
permainan musik.
Eksplorasi bunyi tidak hanya dilakukan dengan mengembangkan sumber
bunyinya atau instrumen, tetapi juga melalui pengembangan pada simbolsimbol
musik, seperti nada dan ritme. Pertama, eksplorasi nada dengan
menggunakan dua buah suling yang memiliki diameter dan panjang yang
berbeda.
C. Gerak Dalam Permainan Musik
Gerakan tubuh seringkali dilakukan seseorang ketika tampil dalam suatu
acara yang diiringi dengan permainan musik. Umumnya, acara-acara seperti
itu menggunakan tema tertentu. Namun, apa pun tema acara, peserta yang
turut serta dalam acara itu akan melibatkan gerakan-gerakan tertentu yang
dapat dipandang sebagai simbol. Bagi para penonton, gerakan-gerakan itu
seringkali dihubungkan dengan nilai-nilai estetik dalam masyarakat dari mana
peserta tersebut berasal.
Tubuh merespon permainan musik yang terdengar melalui gerakan, seperti
gerakan tangan, kaki, dan kepala. Dalam permainan musik, gerakan anggota
badan itu dilakukan dengan cara-cara tertentu yang dipandang sesuai dengan
nilai-nilai keindahan dalam masyarakatnya. Hal ini dapat dipahami karena
gerakan tubuh seseorang dipandang sebagai salah satu pola perilaku yang
dipelajari orang tersebut dalam lingkungan masyarakatnya, termasuk
keluarga.
Gerakan tubuh dalam permainan musik tidak hanya memperlihatkan nilainilai
estetik suatu masyarakat, tetapi juga memperlihatkan hubungan antara
kesesuaian pola gerakan dan musik, khususnya tempo dan irama. Pada
bagian ini kalian mempelajari pola-pola ragam gerak tangan, kaki, badan,
dan kepala. Mari kita gunakan pola-pola ragam gerak anggota tubuh tersebut
sesuai dengan tempo dan irama lagu yang terdengar.
Untuk kolaborasi permainan pola ritmik dengan gerakan dibutuhkan dua
kelompok siswa. Buatlah dua kelompok, A dan B. Kelompok A bertugas
memainkan pola ritmik 1 secara berulang dengan menggunakan alat perkusif
yang kalian pilih. Kelompok B mendengarkan dengan seksama dan
membayangkan pola-pola ragam gerak anggota tubuh yang sesuai dengan
tempo dan irama lagu tersebut. Setelah kelompok B dapat merasakan
iramanya maka setiap anggota kelompok B diharapkan dapat melakukan
gerakan sesuai dengan irama musiknya.
D. Kolaborasi Seni Dalam Permainan
Musik
Dalam bagian C kita telah mencoba melakukan kolaborasi permainan musik
dengan pola-pola ragam gerak tangan, kaki, badan, dan kepala. Namun,
kolaborasi musik dapat dilakukan pula dengan cabang seni lainnya, misalnya
seni rupa. John Paynter (1972) pernah mengemukakan tentang kemungkinan
melibatkan aktivitas lain dalam pembelajaran musik. Hal ini menyebabkan
pembelajaran musik dapat dilakukan melalui aktivitas yang beragam yang
dilakukan sesuai dengan potensi dan pengetahuan yang kalian miliki.
Berdasarkan pemikiran Paynter itu, coba kita kolaborasikan gerak tubuh,
properti, dan ekspresi dalam permainan musik.
E. Rangkuman
Kolaborasi seni diharapkan dapat digunakan untuk menghadirkan gagasan
dan ide para siswa dalam berkesenian, sebagai media hiburan, memperindah,
merencanakan, dan menata karya-karya seni yang fungsional dan ekspresif.
Kegiatan bereksperimen dan menciptakan seni berdampak pada kebahagiaan
seumur hidup pada siswa dan dapat digunakan sebagai alat untuk berekspresi
dan menganalisis karya-karya seni. Salah satu bentuk eksperimen adalah
melakukan eksplorasi bunyi.
Eksplorasi sumber bunyi dipandang penting karena dengan tersedianya
beragam bunyi yang dihasilkan oleh sumber bunyi yang beragam, siswa
dapat lebih termotivasi untuk melakukan kolaborasi seni sesuai dengan
pengetahuan dan kemampuan yang mereka miliki. Eksplorasi sumber bunyi
dapat dilakukan dengan memanfaatkan barang-barang yang ada di
lingkungan sekitar dan memodifikasi alat-alat perkusif yang dapat digunakan
untuk memenuhi kebutuhan mengekspresikan gagasan atau ide para siswa
di sekolah dalam bidang musik.
Kolaborasi seni dalam permainan musik memperlihatkan bahwa dalam
prosesnya, musik tidak dapat dilepaskan dari cabang seni lainnya, seperti
seni tari dan seni rupa. Kolaborasi musik dan gerak tubuh memperlihatkan
keterkaitan yang erat di antara keduanya. Kenyataan memperlihatkan bahwa
di dalam musik terdapat gerak dan di dalam gerak terdapat musik. Hal yang
sama terjadi pula pada kolaborasi musik dengan seni rupa. Properti sebagai
hasil dari seni rupa sangat dibutuhkan dalam permainan musik untuk
memperkuat tema yang dipilih oleh siswa berdasarkan pengamatan yang ia
lakukan dalam lingkungan sosialnya. Properti yang digunakan seseorang
juga dipandang penting untuk memperlihatkan nilai-nilai estetik
masyarakatnya.
Kolaborasi seni dapat dipandang sebagai suatu aktivitas yang tidak hanya
melatih ‘rasa’ (feeling) para siswa, tetapi juga meningkatkan kemampuan
berpikir secara logis pada siswa. Kolaborasi seni dalam permainan musik
juga dipandang dapat meningkatkan apresiasi para siswa terhadap nilai-nilai
estetik dalam masyarakat lokal, seperti tampak pada pola ragam gerakan
tubuh dan properti yang digunakan.
tentang seni
Medium, Bahan, dan Teknik
Sebelum melakukan kegiatan berkarya seni rupa 2 dimensi, sangat penting
bagi kalian untuk memiliki pengetahuan dan pemahaman berbagai alat,
bahan, dan teknik yang biasa digunakan dalam praktek berkarya seni. Usaha
untuk mengenal karakter bahan, alat, dan teknik ini dengan baik hanya dapat
kalian lakukan dengan kegiatan praktek secara langsung. Cobalah melakukan
kegiatan apresiasi karya seni rupa dengan pendekatan aplikatif. Dengan
demikian, selain wawasan apresiasi kalian semakin kaya, keterampilan kalian
dalam berkarya seni rupa juga akan menjadi lebih baik
1. Medium dan Bahan Karya Seni Rupa
Bahan berkarya seni rupa adalah material habis pakai yang digunakan untuk
mewujudkan karya seni rupa tersebut. Sesuai dengan keragaman jenis karya
seni rupa, bahan untuk berkarya seni rupa ini juga banyak macam dan
ragamnya, ada yang berfungsi sebagai bahan utama (medium) dan ada pula
sebagai bahan penunjang. Sebagai contoh, pada umumnya perupa membuat
karya lukisan menggunakan kanvas dan cat sebagai bahan utamanya serta
kayu dan paku sebagai bahan penunjang. Kayu digunakan sebagai bahan
bingkai (spanram) untuk menempatkan kanvas dan paku untuk mengaitkan
kanvas pada permukaan kayu bingkai tersebut.
Bahan untuk berkarya seni rupa dapat dikategorikan menjadi bahan alami
dan bahan sintetis berdasarkan sumber bahan dan proses pengolahannya.
Bahan baku alami adalah material yang bahan dasarnya berasal dari alam.
Bahan-bahan ini dapat digunakan secara langsung tanpa proses pengolahan
secara kimiawi di pabrik atau industri terlebih dahulu. Adapun bahan baku
olahan adalah bahan-bahan alam yang telah diolah melalui proses pabriksasi
atau industri tertentu menjadi bahan baru yang memiliki sifat dan karakter
khusus. Berdasarkan sifat materialnya, bahan berkarya seni rupa ini dapat
juga dikategorikan ke dalam bahan keras dan bahan lunak, bahan cair dan
bahan padat dan sebagainya
2. Alat Berkarya Seni Rupa
Alat untuk berkarya seni rupa sangat banyak jenis dan ragamnya. Beberapa
karya seni rupa bahkan memiliki peralatan khusus yang tidak dipergunakan
pada jenis karya lainnya. Tetapi ada juga alat atau bahan yang dipergunakan
hampir disemua proses berkarya seni rupa. Alat-alat tulis (gambar) misalnya,
adalah peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan hampir seluruh
jenis karya seni rupa, terutama saat membuat rancangan karya seni tersebut.
Dalam berkarya seni rupa dua dimensi setidaknya dikenal beberapa kategori
alat utama untuk berkarya yaitu alat untuk membentuk, menggambar dan
mewarnai serta alat mencetak (mendupilkasi). Seperti juga bahan, selain
kategori alat utama tersebut, kita juga mengenal alat-alat bantu lainnya yaitu
alat-alat yang peruntukannya tidak secara khusus untuk kegiatan berkarya
seni rupa tetapi sangat diperlukan dalam kegiatan berkarya seni rupa seperti:
alat pemotong (pisau dan gunting), alat pengering, alat pengukur dan
sebagainya. Alat-alat ini bersifat penunjang untuk memudahkan atau
melancarkan proses pembuatan karya.
Karena kemajuan teknologi, saat ini semua fungsi alat yang dipergunakan
dalam berkarya seni rupa relatif dapat dilakukan oleh komputer. Walaupun
demikian perlu disadari betul bahwa komputer hanyalah alat bantu. Karya
seni bagaimanapun juga membutuhkan kepekaan rasa yang sulit dihasilkan
oleh program komputer. Kepekaan rasa adalah kompetensi unik dan khas
yang hanya dimilki manusia, berbeda antara satu orang dengan orang lainya.
3. Teknik Berkarya Seni Rupa
Dalam membuat karya seni rupa murni atau terapan dibutuhkan keterampilan
teknis menggunakan alat dan mengolah bahan untuk mewujudkan objek
pada bidang garap. Sebagai contoh, untuk mewujudkan sebuah objek dalam
karya lukisan, seorang perupa atau seniman lukis dituntut menguasai
keterampilan teknis menggunakan alat (kuas) dan mengolah bahan (cat)
pada kanvas (medium). Seorang pematung dituntut menguasai keterampilan
teknis menggunakan alat memahat dan mengolah bahan kayu untuk
mewujudkan karya seni patung.
Karya seni rupa ada juga yang dinamai berdasarkan teknik utama yang
digunakan dalam pembuatannya. Seni kriya Batik misalnya, menunjukkan
jenis karya seni rupa yang dibuat dengan teknik membatik, begitu pula Seni
kriya anyam, untuk menamai jenis karya seni rupa yang dibuat dengan teknik
menganyam.
Beragam jenis dan karakteristik bahan yang digunakan dalam berkarya seni
rupa memerlukan beragam alat dan teknik untuk mengolahnya. Suatu teknik
berkarya seni rupa mungkin saja secara khusus digunakan sebagai teknik
utama dalam mewujudkan satu jenis karya seni rupa tetapi mungkin juga
digunakan untuk mewujudkan jenis karya seni rupa lainnya.
Proses Berkarya Seni Rupa
Karya seni rupa dua dimensi tidak tercipta dengan sendirinya. Pembuatan
karya seni rupa dua dimensi dilakukan melalui sebuah proses secara
bertahap. Tahapan dalam berkarya ini berbeda antara satu jenis karya
dengan jenis karya lainnya mengikuti karakteiristik bahan, teknik, alat dan
medium yang digunakan untuk mewujudkan karya seni rupa tersebut.
Tahapan dalam berkarya seni rupa dua dimensi ini dimulai dari adanya
motivasi untuk berkarya. Motivasi ini dapat berasal dari dalam diri maupun
dari luar diri perupanya. Benda-benda kecil atau hal-hal sederhana dalam
kehidupan kita sehari-hari dapat menjadi ide untuk berkarya seni rupa dua
dimensi. Cobalah perhatikan benda-benda dan peristiwa sehari-hari di sekitar
kalian kemudian kembangkan hasil pengamatan kalian menjadi gagasan
berkarya seni rupa. Pilihlah bahan, media, alat dan teknik yang kalian kuasai
atau ingin kalian coba dan mulailah berkreasi menciptakan karya seni rupa.
Perhatikan karya seni rupa dua dimensi jenis gambar karikatur berikut ini
ceritakan kembali langkah-langkah dalam proses berkarya seni rupa dua
dimensi yang ditunjukan oleh gambar karikatur tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)
Merencanakan Pameran Rencana sebuah pameran perlu dirancang secara sistematis dan logis agar pada waktu pelaksanaannya berjalan lancar. Ta...
-
TEMA TARI Secara garis besar tema tarian dibagi menjadi 6 yaitu: 1. Tema Imitatif 2. Tema pantomim 3....
-
B. Unsur dan Obyek Karya Seni Rupa Seorang perupa (seniman, desainer, kriyawan, perajin, dsb.) mengolah unsur-unsur seni rupa fisik dan n...
-
SENI RUPA a. Apresiasi Seni Apresiasi berasal dari Bahasa Latin, Appretiatus yang artinya penilaian/penghargaan. Apresiasi...