Merencanakan Pameran
Rencana sebuah pameran perlu dirancang secara sistematis dan
logis agar pada waktu pelaksanaannya berjalan lancar. Tanpa
perencanaan yang sistematis sebuah pameran tidak dapat berjalan
lancar sesuai dengan yang diharapkan. Pelajari tahapan umum
dalam perencanaan penyelenggaran pameran seni rupa berikut ini.
1. Menentukan Tujuan
Langkah awal yang harus diperhatikan dalam menyusun program
pameran adalah menetapkan dulu tujuan pameran tersebut.
Penyelenggaraan pameran dapat saja bertujuan untuk menggalang
dana yang bersifat komersial, sosial atau kemanusiaan. Cobalah
diskusikan dengan guru dan teman kalian tujuan penyelenggaraan
yang paling tepat untuk kegiatan pameran dalam pekan seni akhir
semester atau tahun ajaran yang akan datang.
2. Menentukan Tema Pameran
Tema pameran ditentukan setelah tujuan pameran dirumuskan.
Penentuan tema berfungsi untuk memperjelas tujuan yang akan
dicapai, dengan adanya tema dapat memperjelas misi pameran
yang akan dilaksanakan. Setelah rumusan tujuan dan tema telah
kita tetapkan, langkah berikutnya adalah menyusun kepanitiaan
pameran.
3. Menyusun Kepanitiaan
Untuk mendukung kelancaran penyelenggaraan pameran agar
berjalan dengan lancar perlu dibuat kepanitiaan dalam sebuah
organisasi kepanitiaan pameran. Penyusunan struktur organisasi
kepanitiaan pameran disesuaikan dengan tingkat kebutuhan, situasi,
dan kondisi sekolah. Umumnya struktur kepanitiaan sebuah pameran
terdiri dari panitian inti dan dibantu dengan seksi-seksi.
Penyelenggaraan pameran seni rupa sekolah akan berjalan lancar
bila ada pembagian tugas kepanitian yang jelas. Hal ini dilakukan
agar masing-masing orang yang terlibat dalam kepanitiaan pameran
memiliki rasa tanggung jawab dan kebersamaan. Secara singkat,
berikut ini pembagian tugas kepanitiaan dalam pemaran seni rupa.
Kamis, 18 Mei 2017
Tujuan, Manfaat, dan Fungsi
Pameran
Sebagai mahluk yang berakal dan berbudi, setiap pekerjaan yang kita lakukan seharusnya memiliki tujuan dan manfaat yang diharapkan serta dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Dalam penyelenggaraan pameran setidaknya dikenal beberapa tujuan yaitu tujuan sosial dan kemanusiaan, tujuan komersial, dan tujuan yang berkaitan dengan pendidikan. Sebuah kegiatan pameran yang diselenggarakan dalam lingkup terbatas (sekolah) maupun lingkup yang lebih luas (masyarakat) dapt diselenggarakan dengan harapan karya yang dipamerkan terjual dan dana hasil penjualan tersebut digunakan untuk kegiatan sosial kemanusiaan seperti disumbangkan ke panti asuhan, masyarakat tidak mampu atau korban bencana alam. Ada juga kegiatan pameran yang diselenggarakan dengan harapan karya yang dipamerkan terkjual dengan keuntungan yang tinggi bagi pemilik karya atau penyelenggara pameran tersebut. Dalam konteks pembelajaran atau pendidikan seni rupa, pameran diselenggarakan dengan harapan mendapat apresiasi dan tanggapan dari pengunjung untuk meningkatkan kualitas berkarya selanjutnya. Secara khusus penyelenggaraan pameran di sekolah memiliki manfaat, untuk menumbuhkan dan menambah kemampuan kalian dalam memberi apresiasi terhadap karya orang lain serta menambah wawasan dan kemampuan dalam memberikan evaluasi karya secara lebih objektif. Berkaitan dengan organisasi penyelenggarannya, penyelenggaraan pameran di sekolah bermanfaat untuk melatih kerja kelompok (bekerjasama dengan orang lain), mempertebal pengalaman sosial, melatih untuk bertanggungjawab dan bersikap mandiri serta melatih untuk membuat suatu perencanaan kerja melaksanakan apa yang telah direncanakan. Jika karya yang dipamerkan diapresiasi dengan baik, kegiatan pameran juga bermanfaat membangkitkan motivasi kalian dalam berkarya seni. (Cahyono, 1994). Kegiatan pameran memiliki fungsi utama sebagai alat komunikasi antara pencipta seni (seniman) dengan pengamat seni (apresiator). Pameran seni rupa pada hakekatnya berfungsi untuk membangkitkan apresiasi seni pada masyarakat, di samping sebagai media komunikasi antara seniman dengan penonton (Wartono, 1984).
Sebagai mahluk yang berakal dan berbudi, setiap pekerjaan yang kita lakukan seharusnya memiliki tujuan dan manfaat yang diharapkan serta dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Dalam penyelenggaraan pameran setidaknya dikenal beberapa tujuan yaitu tujuan sosial dan kemanusiaan, tujuan komersial, dan tujuan yang berkaitan dengan pendidikan. Sebuah kegiatan pameran yang diselenggarakan dalam lingkup terbatas (sekolah) maupun lingkup yang lebih luas (masyarakat) dapt diselenggarakan dengan harapan karya yang dipamerkan terjual dan dana hasil penjualan tersebut digunakan untuk kegiatan sosial kemanusiaan seperti disumbangkan ke panti asuhan, masyarakat tidak mampu atau korban bencana alam. Ada juga kegiatan pameran yang diselenggarakan dengan harapan karya yang dipamerkan terkjual dengan keuntungan yang tinggi bagi pemilik karya atau penyelenggara pameran tersebut. Dalam konteks pembelajaran atau pendidikan seni rupa, pameran diselenggarakan dengan harapan mendapat apresiasi dan tanggapan dari pengunjung untuk meningkatkan kualitas berkarya selanjutnya. Secara khusus penyelenggaraan pameran di sekolah memiliki manfaat, untuk menumbuhkan dan menambah kemampuan kalian dalam memberi apresiasi terhadap karya orang lain serta menambah wawasan dan kemampuan dalam memberikan evaluasi karya secara lebih objektif. Berkaitan dengan organisasi penyelenggarannya, penyelenggaraan pameran di sekolah bermanfaat untuk melatih kerja kelompok (bekerjasama dengan orang lain), mempertebal pengalaman sosial, melatih untuk bertanggungjawab dan bersikap mandiri serta melatih untuk membuat suatu perencanaan kerja melaksanakan apa yang telah direncanakan. Jika karya yang dipamerkan diapresiasi dengan baik, kegiatan pameran juga bermanfaat membangkitkan motivasi kalian dalam berkarya seni. (Cahyono, 1994). Kegiatan pameran memiliki fungsi utama sebagai alat komunikasi antara pencipta seni (seniman) dengan pengamat seni (apresiator). Pameran seni rupa pada hakekatnya berfungsi untuk membangkitkan apresiasi seni pada masyarakat, di samping sebagai media komunikasi antara seniman dengan penonton (Wartono, 1984).
- Pengertian Pameran
Pameran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menyampaikan ide atau gagasan perupa kepada publik melalui media karya seninya. Melalui kegiatan ini diharapkan terjadi komunikasi antaran perupa yang diwakili oleh karya seninya dengan apresiator. Hal ini sejalan dengan definisi yang diberikan Galeri Nasional bahwa: “Pengertian pameran adalah suatu kegiatan penyajian karya seni rupa untuk dikomunikasikan sehingga dapat diapresiasi oleh masyarakat luas.” (http://www.galeri-nasional.or.id) Penyelenggaraan pameran dalam konteks pembelajaran seni budaya bisa dilakukan baik di sekolah maupun di luar sekolah (masyarakat). Penyelenggaraan pameran di sekolah menyajikan materi pameran berupa hasil studi para siswa dari kegiatan pembelajaran kurikuler, dan kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada akhir semester atau akhir tahun ajaran. Sedangkan konteks pameran dalam arti luas, di masyarakat, materi pameran yang disajikan berupa berbagai jenis karya seni rupa untuk diapresiasi oleh masyarakat luas.
Menampilkan Karya Tari dengan
Iringan
Menampilkan tari Lenggang Patah Sembilan
Dinamakan tari Lenggang Patah Sembilan karena sesuai dengan pepatah
Melayu lama. “Lenggang Patah Sembilan, semut dipijak tidak mati, antan
terlan patah tiga”. Makna yang tersirat pada tarian mengungkapkan corak
tarian ini sangat lembut namun pasti. Menyatakan bahwa seseorang itu harus
memiliki budi pekerti yang halus dan luhur, tetapi mempunyai ketegasan
dalam berpikir dan bertindak. Lagu yang mengiringi tarian ini adalah Kuala
Deli, Damak, Makan Sirih, Anak Tiung, Tudung Periuk, Batu Belah, Tudung
Saji, Mas Merah , Burung Putih
Kreativitas Tari
Kreativitas yang baik merupakan aktualisasi dari pribadi yang positif. Antara
lain harus memiliki inisiatif, keberanian dan kemampuan penalaran. Dalam
menata sebuah tarian ada kalanya dimulai dari sebuah ide kemudian
dikembangkan dalam bentuk gerak namun dimulai dengan merangkai
gerakkan kemudian mencari ide, yang terpenting gerak yang dipilih harus
memiliki motivasi untuk pembentukaan tarian.
Penataan tarian dapat dimulai dengan cara eksplorasi gerak yang akan
menghasilkan gerak yang baru . Dalam pengembangan selanjutnya eksplorasi
diolah bersama ketiga elemen dasar pada seni tari yaitu gerak, waktu/ritme,
ruang / pola lantai dan tenaga.
A. Pengertian Kreativitas Tari
Kata kreatif bukan merupakan hal yang asing dan sering kita dengar. Kata
kreatif sering dikaitkan dengan membuat karya. Tari salah satu bidang yang
dapat dijadikan sebagai objek kreativitas karya seni. Dalam menyusun karya
seni sangat dibutuhkan kreativitas yang tinggi untuk menghasilkan karya seni
yang baik. Menyusun karya seni dapat menggunakan pembendaharaan
gerak tradisi yang sudah ada atau melalui pencarian dan pengembangan
gerak yang belum terpola sebelumnya yaitu dengan cara melakukan
eksplorasi gerak, improvisasi gerak dan komposisi gerak yaitu penyusunan
gerak menjadi sebuah tarian. Pengalaman dan kemampuan seseorang baik
secara teoritis maupun praktek dapat dijadikan bekal dalam mewujudkan
kreativitas yang diwujudkan dalam karya seni.
Mencipta merupakan dorongan untuk merasakan, menemukan dan
menuangkan ide-ide yang ada untuk dikembangkan. Tari tidak tercipta secara
instan, terdapat sebuah proses atau langkah-langkah yang harus ditempuh
dalam menciptakan tarian. Proses untuk mencipta atau membuat karya tari
dimulai dari mencari ide-ide, yaitu melalui eksplorasi, improvisasi, dan
pembentukan (komposisi).
B. Proses Kreativitas Tari
Pada dasarnya setiap orang memiliki potensi kreatif. Meskipun dalam kadar
yang berbeda, karena setiap orang memiliki kemampuan dan intensitas yang
berbeda. Namun kreatif dapat dikembangkan melalui pendidikan dan latihanlatihan.
Seperti menggambar jika tidak mencoba dan melakukan latihan
secara rutin maka gambar yang dapat dibuat hanya pemandangan gunung
saja. Kreatif tidak muncul begitu saja, tetapi harus melalui proses terlebih
dahulu yaitu dengan mencoba , melakukan dan berlatih secara berkelanjutan.
Kreativitas seseorang dapat dilihat dari hasil akhir kreatif yaitu karya. Hasil
akhir tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal seperti
faktor lingkungan, sarana, keterampilan, identitas, orisionalitas, dan apresiasi.
Proses kreativitas tari dapat dilakukan dengan tahapan yaitu:
• Eksplorasi gerak, yaitu proses berfikir, imajinasi merasakan dan merespon
dari suatu objek yang kita jadikan sebagai bahan karya seni.
• Improvisasi yaitu spontanitas karena memiliki kebebasan dalam gerak
dapat dilakuakan mulai gerak yang sederhana kemudian dikembangkan.
• Komposisi atau penciptaan karya seni yaitu menata, mengatur dan
menata bagian-bagian sehingga satu dengan yang lainnya saling
menjalin menjadi kesatuan yang utuh.
C. Menyusun Karya Tari
Dalam menyusun karya tari dapat mempergunakan gerak tradisi yang suadah
ada atau melalui pencarian gerak yang belum terpola sebelumnya. Perlu
diperhatikan bahwa tari sebagai ekspresi seni menuntut kemampuan lebih
dari sekedar merangkai gerak menjadi sebuah koreografi, melainkan harus
memiliki nilai estetis. Setelah gerak-gerak yang dimaksud telah terkumpul,
lalu dirangkai menjadi tarian. Menyusun gerak yang baik adalah memadukan
gerak maknawi dengan gerak murni, dirangkai sesuai dengan tema yang
sudah ditentukan dan sudah mencakup arah gerak dan arah hadap.
Arah memberikan orientasi pada tarian. Ada dua macam arah dalam menari,
yaitu:
1. Arah Hadap, menunjukkan kemana penari menghadap, ke kanan, ke kiri,
ke depan, ke belakang, menengadah atau menunduk.
2. Arah Gerak (lintas gerak), menunjukkan kemana penari akan bergerak,
membuat lingkaran, zig-zag, berjalan maju dan mundur, serong diagonal,
spiral dsb.
1. Level
Tingkat jangkauan gerak atau tinggi rendahnya gerak.
Ada tiga level dalam menari, yaitu:
a. Level Tinggi : Meloncat
b. Level Sedang : Membungkuk
c. Level Rendah : Duduk
Dari hasil pengolahan suatu gerakan atau gerak yang telah mengalami
sitisasi atau distorsi lahir dua jenis gerak tari. Pertama, gerak tari yang bersifat
gerak murni dan yang kedua bersifat gerak maknawi.
Gerak murni adalah gerak tari dari hasil pengolahan gerak yang dalam
pengungkapannya tidak mempertimbangkan suatu pengertian dari gerak tari
tersebut. Disini yang dipertimbangkan adalah faktor nilai keindahan gerak
tarinya saja. Misalnya gerak-gerak memutar tangan pada pergelangan
tangan, beberapa gerak leher seperti pacak-jangga di Jawa, dan sebagainya.
Sedangkan yang dimaksud dengan gerak maknawi adalah gerak wantah
yang telah diolah menjadi suatu gerak tari yang dalam pengungkapannya
mengandung suatu pengertian atau maksud disamping keindahannya.
Senin, 15 Mei 2017
tentang seni
Kolaborasi Seni
Dalam Permainan
Musik
A. Pengertian
Pengertian
Kolaborasi seni dapat diartikan sebagai kerjasama dua atau lebih cabang
seni. Pernahkah kalian menyaksikan kolaborasi antara musik dengan gerak
yang merupakan substansi dasar seni tari? Atau, kolaborasi antara musik
dengan imaji atau visual yang merupakan substansi dasar seni rupa? Atau,
kolaborasi antara seni musik, gerak tubuh, dan imaji atau visual dalam suatu
pertunjukan? Perhatikan gambar berikut:
Perhatikan Gambar 1! Dalam gambar itu kita dapat melihat beberapa orang
menyesuaikan gerakan mereka dengan musik yang terdengar. Hubungan
yang erat antara musik dan gerakan telah lama diketahui oleh para ahli
pendidikan musik. Bahkan Barrett, McCoy, dan Veblen (1997) pernah
mengemukakan bahwa, “melalui gerakan tubuh, bernyanyi, dan memainkan
musik, misalnya, memperlihatkan cara seseorang menggunakan organ
tubuhnya untuk mempelajari musik, internalisasi ritmik, serta menghubungkan
antara bunyi dan gerakan”.
Perlu diketahui bahwa kolaborasi beberapa cabang seni dalam permainan
musik dapat saja dilakukan. Namun, perlu diingat bahwa apa pun gerakan
atau peralatan (properti) yang digunakan dalam permainan musik, harus
disesuaikan dengan tema karya musiknya.
B. Eskplorasi Musik
Kita tentu sering melihat sekelompok orang
memainkan musik dengan menggunakan
instrumen-instrumen yang sudah kita kenal
dengan baik, seperti gitar, drum, atau
keyboard. Namun, pernahkah kalian
melihat sekelompok orang bermain musik
dengan menggunakan alat-alat perkusif
sederhana, seperti potongan bambu, botol,
bel, atau gelas berisi air yang dipukul
dengan sendok?
Pada saat ini, alat-alat perkusif sederhana sudah banyak digunakan oleh
pemain musik di banyak negara, termasuk Indonesia. Umumnya, alat-alat
sederhana tersebut digunakan oleh pemain musik untuk mengeksplorasi
beragam bunyi yang dibutuhkan dalam permainan musik mereka. Dapat
dikatakan bahwa eksplorasi bunyi merupakan salah satu usaha manusia
untuk mengekspresikan gagasan atau ide mereka tentang kehidupan melalui
permainan musik.
Eksplorasi bunyi tidak hanya dilakukan dengan mengembangkan sumber
bunyinya atau instrumen, tetapi juga melalui pengembangan pada simbolsimbol
musik, seperti nada dan ritme. Pertama, eksplorasi nada dengan
menggunakan dua buah suling yang memiliki diameter dan panjang yang
berbeda.
C. Gerak Dalam Permainan Musik
Gerakan tubuh seringkali dilakukan seseorang ketika tampil dalam suatu
acara yang diiringi dengan permainan musik. Umumnya, acara-acara seperti
itu menggunakan tema tertentu. Namun, apa pun tema acara, peserta yang
turut serta dalam acara itu akan melibatkan gerakan-gerakan tertentu yang
dapat dipandang sebagai simbol. Bagi para penonton, gerakan-gerakan itu
seringkali dihubungkan dengan nilai-nilai estetik dalam masyarakat dari mana
peserta tersebut berasal.
Tubuh merespon permainan musik yang terdengar melalui gerakan, seperti
gerakan tangan, kaki, dan kepala. Dalam permainan musik, gerakan anggota
badan itu dilakukan dengan cara-cara tertentu yang dipandang sesuai dengan
nilai-nilai keindahan dalam masyarakatnya. Hal ini dapat dipahami karena
gerakan tubuh seseorang dipandang sebagai salah satu pola perilaku yang
dipelajari orang tersebut dalam lingkungan masyarakatnya, termasuk
keluarga.
Gerakan tubuh dalam permainan musik tidak hanya memperlihatkan nilainilai
estetik suatu masyarakat, tetapi juga memperlihatkan hubungan antara
kesesuaian pola gerakan dan musik, khususnya tempo dan irama. Pada
bagian ini kalian mempelajari pola-pola ragam gerak tangan, kaki, badan,
dan kepala. Mari kita gunakan pola-pola ragam gerak anggota tubuh tersebut
sesuai dengan tempo dan irama lagu yang terdengar.
Untuk kolaborasi permainan pola ritmik dengan gerakan dibutuhkan dua
kelompok siswa. Buatlah dua kelompok, A dan B. Kelompok A bertugas
memainkan pola ritmik 1 secara berulang dengan menggunakan alat perkusif
yang kalian pilih. Kelompok B mendengarkan dengan seksama dan
membayangkan pola-pola ragam gerak anggota tubuh yang sesuai dengan
tempo dan irama lagu tersebut. Setelah kelompok B dapat merasakan
iramanya maka setiap anggota kelompok B diharapkan dapat melakukan
gerakan sesuai dengan irama musiknya.
D. Kolaborasi Seni Dalam Permainan
Musik
Dalam bagian C kita telah mencoba melakukan kolaborasi permainan musik
dengan pola-pola ragam gerak tangan, kaki, badan, dan kepala. Namun,
kolaborasi musik dapat dilakukan pula dengan cabang seni lainnya, misalnya
seni rupa. John Paynter (1972) pernah mengemukakan tentang kemungkinan
melibatkan aktivitas lain dalam pembelajaran musik. Hal ini menyebabkan
pembelajaran musik dapat dilakukan melalui aktivitas yang beragam yang
dilakukan sesuai dengan potensi dan pengetahuan yang kalian miliki.
Berdasarkan pemikiran Paynter itu, coba kita kolaborasikan gerak tubuh,
properti, dan ekspresi dalam permainan musik.
E. Rangkuman
Kolaborasi seni diharapkan dapat digunakan untuk menghadirkan gagasan
dan ide para siswa dalam berkesenian, sebagai media hiburan, memperindah,
merencanakan, dan menata karya-karya seni yang fungsional dan ekspresif.
Kegiatan bereksperimen dan menciptakan seni berdampak pada kebahagiaan
seumur hidup pada siswa dan dapat digunakan sebagai alat untuk berekspresi
dan menganalisis karya-karya seni. Salah satu bentuk eksperimen adalah
melakukan eksplorasi bunyi.
Eksplorasi sumber bunyi dipandang penting karena dengan tersedianya
beragam bunyi yang dihasilkan oleh sumber bunyi yang beragam, siswa
dapat lebih termotivasi untuk melakukan kolaborasi seni sesuai dengan
pengetahuan dan kemampuan yang mereka miliki. Eksplorasi sumber bunyi
dapat dilakukan dengan memanfaatkan barang-barang yang ada di
lingkungan sekitar dan memodifikasi alat-alat perkusif yang dapat digunakan
untuk memenuhi kebutuhan mengekspresikan gagasan atau ide para siswa
di sekolah dalam bidang musik.
Kolaborasi seni dalam permainan musik memperlihatkan bahwa dalam
prosesnya, musik tidak dapat dilepaskan dari cabang seni lainnya, seperti
seni tari dan seni rupa. Kolaborasi musik dan gerak tubuh memperlihatkan
keterkaitan yang erat di antara keduanya. Kenyataan memperlihatkan bahwa
di dalam musik terdapat gerak dan di dalam gerak terdapat musik. Hal yang
sama terjadi pula pada kolaborasi musik dengan seni rupa. Properti sebagai
hasil dari seni rupa sangat dibutuhkan dalam permainan musik untuk
memperkuat tema yang dipilih oleh siswa berdasarkan pengamatan yang ia
lakukan dalam lingkungan sosialnya. Properti yang digunakan seseorang
juga dipandang penting untuk memperlihatkan nilai-nilai estetik
masyarakatnya.
Kolaborasi seni dapat dipandang sebagai suatu aktivitas yang tidak hanya
melatih ‘rasa’ (feeling) para siswa, tetapi juga meningkatkan kemampuan
berpikir secara logis pada siswa. Kolaborasi seni dalam permainan musik
juga dipandang dapat meningkatkan apresiasi para siswa terhadap nilai-nilai
estetik dalam masyarakat lokal, seperti tampak pada pola ragam gerakan
tubuh dan properti yang digunakan.
tentang seni
Medium, Bahan, dan Teknik
Sebelum melakukan kegiatan berkarya seni rupa 2 dimensi, sangat penting
bagi kalian untuk memiliki pengetahuan dan pemahaman berbagai alat,
bahan, dan teknik yang biasa digunakan dalam praktek berkarya seni. Usaha
untuk mengenal karakter bahan, alat, dan teknik ini dengan baik hanya dapat
kalian lakukan dengan kegiatan praktek secara langsung. Cobalah melakukan
kegiatan apresiasi karya seni rupa dengan pendekatan aplikatif. Dengan
demikian, selain wawasan apresiasi kalian semakin kaya, keterampilan kalian
dalam berkarya seni rupa juga akan menjadi lebih baik
1. Medium dan Bahan Karya Seni Rupa
Bahan berkarya seni rupa adalah material habis pakai yang digunakan untuk
mewujudkan karya seni rupa tersebut. Sesuai dengan keragaman jenis karya
seni rupa, bahan untuk berkarya seni rupa ini juga banyak macam dan
ragamnya, ada yang berfungsi sebagai bahan utama (medium) dan ada pula
sebagai bahan penunjang. Sebagai contoh, pada umumnya perupa membuat
karya lukisan menggunakan kanvas dan cat sebagai bahan utamanya serta
kayu dan paku sebagai bahan penunjang. Kayu digunakan sebagai bahan
bingkai (spanram) untuk menempatkan kanvas dan paku untuk mengaitkan
kanvas pada permukaan kayu bingkai tersebut.
Bahan untuk berkarya seni rupa dapat dikategorikan menjadi bahan alami
dan bahan sintetis berdasarkan sumber bahan dan proses pengolahannya.
Bahan baku alami adalah material yang bahan dasarnya berasal dari alam.
Bahan-bahan ini dapat digunakan secara langsung tanpa proses pengolahan
secara kimiawi di pabrik atau industri terlebih dahulu. Adapun bahan baku
olahan adalah bahan-bahan alam yang telah diolah melalui proses pabriksasi
atau industri tertentu menjadi bahan baru yang memiliki sifat dan karakter
khusus. Berdasarkan sifat materialnya, bahan berkarya seni rupa ini dapat
juga dikategorikan ke dalam bahan keras dan bahan lunak, bahan cair dan
bahan padat dan sebagainya
2. Alat Berkarya Seni Rupa
Alat untuk berkarya seni rupa sangat banyak jenis dan ragamnya. Beberapa
karya seni rupa bahkan memiliki peralatan khusus yang tidak dipergunakan
pada jenis karya lainnya. Tetapi ada juga alat atau bahan yang dipergunakan
hampir disemua proses berkarya seni rupa. Alat-alat tulis (gambar) misalnya,
adalah peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan hampir seluruh
jenis karya seni rupa, terutama saat membuat rancangan karya seni tersebut.
Dalam berkarya seni rupa dua dimensi setidaknya dikenal beberapa kategori
alat utama untuk berkarya yaitu alat untuk membentuk, menggambar dan
mewarnai serta alat mencetak (mendupilkasi). Seperti juga bahan, selain
kategori alat utama tersebut, kita juga mengenal alat-alat bantu lainnya yaitu
alat-alat yang peruntukannya tidak secara khusus untuk kegiatan berkarya
seni rupa tetapi sangat diperlukan dalam kegiatan berkarya seni rupa seperti:
alat pemotong (pisau dan gunting), alat pengering, alat pengukur dan
sebagainya. Alat-alat ini bersifat penunjang untuk memudahkan atau
melancarkan proses pembuatan karya.
Karena kemajuan teknologi, saat ini semua fungsi alat yang dipergunakan
dalam berkarya seni rupa relatif dapat dilakukan oleh komputer. Walaupun
demikian perlu disadari betul bahwa komputer hanyalah alat bantu. Karya
seni bagaimanapun juga membutuhkan kepekaan rasa yang sulit dihasilkan
oleh program komputer. Kepekaan rasa adalah kompetensi unik dan khas
yang hanya dimilki manusia, berbeda antara satu orang dengan orang lainya.
3. Teknik Berkarya Seni Rupa
Dalam membuat karya seni rupa murni atau terapan dibutuhkan keterampilan
teknis menggunakan alat dan mengolah bahan untuk mewujudkan objek
pada bidang garap. Sebagai contoh, untuk mewujudkan sebuah objek dalam
karya lukisan, seorang perupa atau seniman lukis dituntut menguasai
keterampilan teknis menggunakan alat (kuas) dan mengolah bahan (cat)
pada kanvas (medium). Seorang pematung dituntut menguasai keterampilan
teknis menggunakan alat memahat dan mengolah bahan kayu untuk
mewujudkan karya seni patung.
Karya seni rupa ada juga yang dinamai berdasarkan teknik utama yang
digunakan dalam pembuatannya. Seni kriya Batik misalnya, menunjukkan
jenis karya seni rupa yang dibuat dengan teknik membatik, begitu pula Seni
kriya anyam, untuk menamai jenis karya seni rupa yang dibuat dengan teknik
menganyam.
Beragam jenis dan karakteristik bahan yang digunakan dalam berkarya seni
rupa memerlukan beragam alat dan teknik untuk mengolahnya. Suatu teknik
berkarya seni rupa mungkin saja secara khusus digunakan sebagai teknik
utama dalam mewujudkan satu jenis karya seni rupa tetapi mungkin juga
digunakan untuk mewujudkan jenis karya seni rupa lainnya.
Proses Berkarya Seni Rupa
Karya seni rupa dua dimensi tidak tercipta dengan sendirinya. Pembuatan
karya seni rupa dua dimensi dilakukan melalui sebuah proses secara
bertahap. Tahapan dalam berkarya ini berbeda antara satu jenis karya
dengan jenis karya lainnya mengikuti karakteiristik bahan, teknik, alat dan
medium yang digunakan untuk mewujudkan karya seni rupa tersebut.
Tahapan dalam berkarya seni rupa dua dimensi ini dimulai dari adanya
motivasi untuk berkarya. Motivasi ini dapat berasal dari dalam diri maupun
dari luar diri perupanya. Benda-benda kecil atau hal-hal sederhana dalam
kehidupan kita sehari-hari dapat menjadi ide untuk berkarya seni rupa dua
dimensi. Cobalah perhatikan benda-benda dan peristiwa sehari-hari di sekitar
kalian kemudian kembangkan hasil pengamatan kalian menjadi gagasan
berkarya seni rupa. Pilihlah bahan, media, alat dan teknik yang kalian kuasai
atau ingin kalian coba dan mulailah berkreasi menciptakan karya seni rupa.
Perhatikan karya seni rupa dua dimensi jenis gambar karikatur berikut ini
ceritakan kembali langkah-langkah dalam proses berkarya seni rupa dua
dimensi yang ditunjukan oleh gambar karikatur tersebut.
tentang seni
B. Unsur dan Obyek Karya Seni Rupa
Seorang perupa (seniman, desainer, kriyawan, perajin, dsb.) mengolah unsur-unsur seni rupa fisik dan non fisik sesuai dengan keterampilan dan kepekaan yang dimilikinya dalam mewujudkan sebuah karya seni rupa. Dalam sebuah karya seni rupa, unsur fisik dapat secara langsung dilihat dan atau diraba sedangkan unsur non fisik adalah prinsip atau kaidah-kaidah umum yang digunakan untuk menempatkan unsur-unsur fisik dalam sebuah karya seni. Unsur-unsur fisik dalam sebuah karya seni rupa pada dasarnya meliputi semua unsur visual yang terdapat pada sebuah benda. Dengan demikian pengamatan terhadap unsur-unsur visual pada karya seni rupa ini tidak berbeda dengan pengamatan terhadap benda-benda yang ada di sekeliling kalian. Cermati kembali paparan singkat tentang unsur-unsur rupa berikut ini :
1. GARIS (line)
Garis adalah unsur fisik yang mendasar dan penting dalam mewujudkan sebuah karya seni rupa. Garis memiliki dimensi memanjang dan mempunyai arah serta sifat-sifat khusus seperti: pendek, panjang, vertikal, horizontal, lurus, melengkung, berombak dan seterusnya. Garis tebal tegak lurus misalnya, dapat memberi kesan kuat dan tegas, sedangkan garis tipis melengkung, memberi kesan lemah dan ringkih. Karakter garis yang dihasilkan oleh alat yang berbeda akan menghasilkan karakter yang berbeda pula.
2. Raut (Bidang dan Bentuk)
Unsur rupa lainnya adalah “raut” yang merupakan tampak, potongan atau wujud dari suatu objek. Istilah ”bidang” umumnya digunakan untuk menunjuk wujud benda yang cenderung pipih atau datar sedangkan ”bangun” atau ”bentuk” lebih menunjukkan kepada wujud benda yang memiliki volume (mass). Perhatikan gambar di samping dan di bawah ini. Tunjukkanlah mana unsur ”bidang” dan mana unsur ”bentuk” atau ”bangun”.
3. Ruang Unsur ruang
dalam sebuah karya seni rupa 2 dimensi menunjukan kesan dimensi dari obyek yang terdapat pada karya seni rupa tersebut. Pada karya dua dimensi kesan ruang dapat dihadirkan dalam karya dengan pengolahan unsurunsur kerupaan lainnya seperti perbedaan intensitas warna, teranggelap, atau menggunakan teknik menggambar perspektif untuk menciptakan ruang semu (khayal).
4. Tekstur Tekstur atau barik
adalah unsur rupa yang menunjukan kualitas taktis dari suatu permukaan atau penggambaran struktur permukaan suatu objek pada karya seni rupa. Berdasarkan wujudnya, tekstur dapat dibedakan atas tekstur asli dan tekstur buatan. Tekstur asli adalah perbedaan ketinggian permukaan objek yang nyata dan dapat diraba, sedangkan tekstur buatan adalah kesan permukaan objek yang timbul pada suatu bidang karena pengolahan unsur garis, warna, ruang, dan terang-gelap.
5. Warna Warna
adalah unsur rupa yang paling menarik perhatian. Menurut teori warna Brewster, semua warna yang ada berasal dari tiga warna pokok (primer) yaitu merah, kuning dan biru. Dalam berkarya seni rupa terdapat beberapa teknik penggunaan warna, yaitu secara harmonis, heraldis, murni, monokromatik dan polikromatik. Cobalah kalian mencari informasi tentang teknik-teknik penggunaan warna tersebut. Perhatikan gambar-gambar karya seni rupa di samping ini, gambar manakah yang menunjukkan penggunaan warna secara harmonis, heraldis, murni, monokromatik dan polikromatik. Gelap-Terang Unsur gelap terang pada karya seni rupa timbul karena adanya perbedaan intensitas cahaya yang jatuh pada permukaan benda. Perbedaan ini menyebabkan munculnya tingkat nada warna (value) yang berbeda. Bagian yang terkena cahaya akan lebih terang dan bagian yang kurang atau terkena cahaya akan tampak lebih gelap Perhatikan obyek gambar karya seni rupa 2 dimensi di atas ini yang menggunakan unsur gelap-terang dan yang tidak menggunakan unsur gelap terang. Kesan apa yang kalian lihat dan rasakan pada masing-masing obyek gambar tersebut. Penataan unsur-unsur visual pada sebuah karya seni rupa menggunakan prinsip-prinsip dasar berupa kaidah atau aturan baku yang diyakini oleh seniman dan perupa pada umumnya dapat membentuk sebuah karya seni yang baik dan indah. Kaidah atau aturan baku ini disebut komposisi, berasal dari bahasa latin compositio yang artinya menyusun atau menggabungkan menjadi satu. Komposisi dapat mencakup beberapa prinsip penataan seperti: kesatuan (unity); keseimbangan (balance) dan irama (rhythm), penekanan, proporsi dan keselarasan. Prinsip-prinsip dasar ini merupakan unsur non fisik dari karya seni rupa.pa 2 dimensi
Seorang perupa (seniman, desainer, kriyawan, perajin, dsb.) mengolah unsur-unsur seni rupa fisik dan non fisik sesuai dengan keterampilan dan kepekaan yang dimilikinya dalam mewujudkan sebuah karya seni rupa. Dalam sebuah karya seni rupa, unsur fisik dapat secara langsung dilihat dan atau diraba sedangkan unsur non fisik adalah prinsip atau kaidah-kaidah umum yang digunakan untuk menempatkan unsur-unsur fisik dalam sebuah karya seni. Unsur-unsur fisik dalam sebuah karya seni rupa pada dasarnya meliputi semua unsur visual yang terdapat pada sebuah benda. Dengan demikian pengamatan terhadap unsur-unsur visual pada karya seni rupa ini tidak berbeda dengan pengamatan terhadap benda-benda yang ada di sekeliling kalian. Cermati kembali paparan singkat tentang unsur-unsur rupa berikut ini :
1. GARIS (line)
Garis adalah unsur fisik yang mendasar dan penting dalam mewujudkan sebuah karya seni rupa. Garis memiliki dimensi memanjang dan mempunyai arah serta sifat-sifat khusus seperti: pendek, panjang, vertikal, horizontal, lurus, melengkung, berombak dan seterusnya. Garis tebal tegak lurus misalnya, dapat memberi kesan kuat dan tegas, sedangkan garis tipis melengkung, memberi kesan lemah dan ringkih. Karakter garis yang dihasilkan oleh alat yang berbeda akan menghasilkan karakter yang berbeda pula.
2. Raut (Bidang dan Bentuk)
Unsur rupa lainnya adalah “raut” yang merupakan tampak, potongan atau wujud dari suatu objek. Istilah ”bidang” umumnya digunakan untuk menunjuk wujud benda yang cenderung pipih atau datar sedangkan ”bangun” atau ”bentuk” lebih menunjukkan kepada wujud benda yang memiliki volume (mass). Perhatikan gambar di samping dan di bawah ini. Tunjukkanlah mana unsur ”bidang” dan mana unsur ”bentuk” atau ”bangun”.
3. Ruang Unsur ruang
dalam sebuah karya seni rupa 2 dimensi menunjukan kesan dimensi dari obyek yang terdapat pada karya seni rupa tersebut. Pada karya dua dimensi kesan ruang dapat dihadirkan dalam karya dengan pengolahan unsurunsur kerupaan lainnya seperti perbedaan intensitas warna, teranggelap, atau menggunakan teknik menggambar perspektif untuk menciptakan ruang semu (khayal).
4. Tekstur Tekstur atau barik
adalah unsur rupa yang menunjukan kualitas taktis dari suatu permukaan atau penggambaran struktur permukaan suatu objek pada karya seni rupa. Berdasarkan wujudnya, tekstur dapat dibedakan atas tekstur asli dan tekstur buatan. Tekstur asli adalah perbedaan ketinggian permukaan objek yang nyata dan dapat diraba, sedangkan tekstur buatan adalah kesan permukaan objek yang timbul pada suatu bidang karena pengolahan unsur garis, warna, ruang, dan terang-gelap.
5. Warna Warna
adalah unsur rupa yang paling menarik perhatian. Menurut teori warna Brewster, semua warna yang ada berasal dari tiga warna pokok (primer) yaitu merah, kuning dan biru. Dalam berkarya seni rupa terdapat beberapa teknik penggunaan warna, yaitu secara harmonis, heraldis, murni, monokromatik dan polikromatik. Cobalah kalian mencari informasi tentang teknik-teknik penggunaan warna tersebut. Perhatikan gambar-gambar karya seni rupa di samping ini, gambar manakah yang menunjukkan penggunaan warna secara harmonis, heraldis, murni, monokromatik dan polikromatik. Gelap-Terang Unsur gelap terang pada karya seni rupa timbul karena adanya perbedaan intensitas cahaya yang jatuh pada permukaan benda. Perbedaan ini menyebabkan munculnya tingkat nada warna (value) yang berbeda. Bagian yang terkena cahaya akan lebih terang dan bagian yang kurang atau terkena cahaya akan tampak lebih gelap Perhatikan obyek gambar karya seni rupa 2 dimensi di atas ini yang menggunakan unsur gelap-terang dan yang tidak menggunakan unsur gelap terang. Kesan apa yang kalian lihat dan rasakan pada masing-masing obyek gambar tersebut. Penataan unsur-unsur visual pada sebuah karya seni rupa menggunakan prinsip-prinsip dasar berupa kaidah atau aturan baku yang diyakini oleh seniman dan perupa pada umumnya dapat membentuk sebuah karya seni yang baik dan indah. Kaidah atau aturan baku ini disebut komposisi, berasal dari bahasa latin compositio yang artinya menyusun atau menggabungkan menjadi satu. Komposisi dapat mencakup beberapa prinsip penataan seperti: kesatuan (unity); keseimbangan (balance) dan irama (rhythm), penekanan, proporsi dan keselarasan. Prinsip-prinsip dasar ini merupakan unsur non fisik dari karya seni rupa.pa 2 dimensi
Minggu, 14 Mei 2017
tentang seni
SENI MUSIK
a. Pengertian Musik
1. Jamalus (1988)
Musik adalah suatu hasil karya seni bunyi dalam bentuk lagu atau komposisi musik yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penciptanya melalui unsur-unsur musik yaitu irama, melodi, harmoni, bentuk dan struktur lagu dan ekspresi sebagai satu kesatuan.
2. Rina (2003)
Musik merupakan salah satu cabang kesenian yang pengungkapannya dilakukan melalui suara atau bunyi-bunyian.
3. Prier (1991) setuju dengan pendapat Aristoteles bahwa musik merupakan curahan kekuatan tenaga penggambaran yang berasal dari gerakan rasa dalam suatu rentetan suara (melodi) yang berirama.
4. Menurut ahli perkamusan (lexicographer)
Musik ialah: ”Ilmu dan seni dari kombinasi ritmis nada-nada,vokal maupun instrumental, yang melibatkan melodi dan harmoni untuk mengekspresikan apa saja yang memungkinkan, namun khususnya bersifat emosional”
5. Musik adalah bagian dari seni yang menggunakan bunyi sebagai media penciptaannya
b. Vocal adalah musik yang dibunyikan oleh suara manusia, didalamnya termasuk bersiul dan bersenandung. Vocal dibagi menjadi 3 jenis suara, antara lain :
· Jenis suara wanita
Terbagi atas jenis suara wanita tinggi (sopran), suara wanita sedang (mezzo sopran), dan jenis suara wanita renda (alto).
· Jenis suara pria
Terbagi atas suara pria tinggi (tenor), suara pria sedang (bariton) dan suara pria rendah (bass)
· Jenis suara anak – anak
Terbagi atas suara anak – anak tinggi dan suara anak – anak rendah
c. Sejarah Musik Klasik
1. Era Kuno (Antiquity) (- 500)
Lahir tidak hanya dari bangsa Eropa, namun dari Timur Tengah dan Mesir Kuno yang meninggalkan gaya menyanyi silabis dan melismatis hingga kini tetap digunakan di seluruh dunia. Di Era Kuno, Yunani Kuno juga masuk Negara yang ikut mengukir sejarah musik ini. Di Yunani Kuno sudah mengenal penalaan nada, memilih instrumen musik, mencipta modus dan ritme-ritme, Ahli matematik Pythagoras orang pertama yang meneliti perbandingan-perbandingan getaran dawai dan menetapkan urutan nada-nada yang hingga kini menjadi dasar sistem musik diatonik. Romawi Kuno memberikan sumbangan sejarah berupa Tangga nada diatonik (tujuh nada) dijadikan standar menggantikan struktur-struktur kromatik dan enharmonik dari sistem musik Yunani.
2. Era Abad Pertengahan (Medieval Era) 600-1450
Seni untuk pelayanan gereja, musik untuk keperluan ibadat, sebagai alat utama untuk memahami karya-karya Tuhan (menurut ajaran Kristen)
mengembangkan modus-modus gereja sebagai sistem tangga nada yang hingga kini masih digunakan dalam berbagai peribadatan Kristen
Standarisasi dalam berbagai lapangan pengetahuan juga terjadi dalam musik, diantaranya sistem menyanyi SOLMISASI (rancangan Guido d’Arezzo seorang biarawan dan teoretikus musik). Pemimpin gereja Paus Gregorius I mengatur penggunaan lagu-lagu pujian untuk peribadatan gereja yang dikenal dengan Gregorian chant. Gaya polifoni sebagai teknologi komposisi yang menggabungkan dua alur melodi atau lebih memperkaya rasa keindahan musikal dibandingkan gaya monofon sebelumnya dan cikal-bakal harmoni.
3. Era Renaisans (1450-1600)
Berkembang di Italia dan Eropa Utara. Berwatak klasik, pengekangan, menahan diri, dan kalem. Renaisans dapat diartikan sebagai periode dalam Sejarah Eropa Barat dimana manusia mulai melakukan eksplorasi terhadap dunia, baik melalui perjalanan atau penjelajahan ke Timur maupun ke Selatan belahan bumi, tetapi mereka juga gemar mengembangkan ilmu pengetahuan dan kesenian. Oleh karena pikiran manusia menjadi semakin bebas, maka musik sekuler mulai muncul dan berkembang pula musik-musik instrumental yang semula kurang mendapatkan tempat di lingkungan tradisi gereja. Tetapi musik gereja tetap sangat penting dan gaya polifonik vokal sangat berkembang pada periode ini. Komposer-komposer terpenting ialah Josquin des Prés, Orlandus Lassus, William Byrd, dan Giovanni Pierluigi da Palestrina.
4. Era Barok & Rokoko (1600-1750) : Musik Terbatas
Ciri – cirinya :
- Melodi cenderung lincah
- Banyak menggunakan ornament
- Ada dinamika keras (forte), lunak (piano)
- Harmoni dua nada atau lebih berbunyi bergantian (polifonik/kontrapunk)
- Bentuk vocalnya disebut Seriosa
Tokoh :
Johann Sebastian Bach
5. Era Klasik (1750-1820)
- Ornament di batasi
- Ada beberapa peralihan tempo accelerando dan ritardando
- Ada peralihan dinamik crescendo dan decrescendo
- Harmoni tiga nada atau lebih bunyi bersamaan (homofonik)
Tokoh :
Wolfgang Amadeus Mozart
6. Era Romantik (1820-1900)
Bersifat ekspresif untuk mengungkapkan perasaan yang subjektif, bukan sekedar untuk keindahan
Ciri – cirinya :
- Tidak ada ornament
- Melodi seakan berkomunikasi
- Harmoni bervariasi
- Penggunaan dinamik dan tempo bervariasi
Tokoh :
Johannes Brahms, Frederic Chopin, Franz Schubert
7. Kontemporer Klasik (Akhir Abad ke 19)
Disebut kontemporer klasik hanya untuk membedakan dengan musik kontemporer. Istilah ini tidak sesuai dengan pengertian sebenarnya. Kontemporer berarti sesuai dengan jamannya. Namun, kenyataannya justru merupakan sesuatu yang unik dan berbeda dengan popularitas zamannya.
Sifat musik :
- Impresionis/tidak dibatasi oleh aturan untuk keindahan, atau mengekspresikan perasaan. Namun, lebih sering mengalun sekehendak mood komposernya
- Banyak menggunakan modulasi (perubahan nada dasar)
- Ada perubahan komposisi instrument
- Dinamik dan tempo dengan variasi tak lazim
- Harmoni lepas diri dari system tonal (pengelompokan tingkat akor)
Tokohnya :
Claude Debussy, George Gershwin
d. Jenis-Jenis Musik Populer :
1. Rock
Ciri – cirinya :
- Wilayah nada luas dari nada rendah hingga tinggi
- Kekuatan musik pada dinamika aransemen
- Lagu kadang sulit disenandungkan
- Lirik lagu cenderung ekspresif
- Tempo bisa lambat bisa cepat
- Harmoni bisa sangat rumit
- Beat cenderung keras
2. Jazz
Ciri – cirinya :
- Vocal dan lirik cenderung dianggap bagian dari bunyi instrument, sehingga kesan dukungan melodi dan harmoni terhadap ekspresi sangat kuat
- Harmoni rumit, memiliki tonalitas yang luas, sehingga kadang berkesan sumbang sering terjadi modulasi
- Ritme melodi cenderung improvisasi
3. Dance
Ciri – cirinya :
- Ritme, Melodi, Harmoni Cenderung Sederhana
- Beat Keras, Konstan Dan Bertempo Sedang, Sesuai Untuk Senam Atau Tari
- Lirik Tidak Terlalu Penting Karena Cenderung Untuk Mengekspresikan Gerak, Bukan Perasaan
4. Latin
Ciri – cirinya :
- Beat konstan, dengan berbagai variasi bunyi perkusi, sesuai untuk tari
- Memiliki ciri khas yang bervariasi pada setiap stylenya
- Melodi dan harmoni cenderung sederhana
e. Musik Kontemporer :
Ciri – ciri
- Tekstur warna bunyi bisa heterogen ataupun homogeny
- Notasi musik berupa symbol/tanda yang hanya dimengerti oleh pemusik
- Musik memiliki kecenderungan improvisasi mengikuti mood pemusik
- Bunyi yang dikomposisikan tidak terlalu berasal dari instrument musik
- Musik bisa memiliki melodi atau hanya komposisi ritmis
- Melodi dan harmoni tidak selalu mengikuti system tonal
- Tidak dibatasi pada satu jenis tangga nada
- Tidak terikat pada satu jenis birama
- Dinamik dan tempo bervariasi
Contoh :
Kua Etnika (Djaduk Ferianto) Jogjakarta, Sinten Remen (Djaduk Ferianto) Jogjakarta, Herry Roesly (Jakarta)
f. Klasifikasi Alat Musik Menurut Curt Suchs Dan Hornbostel :
1.
Aerophone
:
Udara atau satuan udara yang berada dalam alat musik itu sebagai penyebab bunyi
Contoh : recorder, seruling, saxsophone
2.
Membranophone
:
Kulit atau selaput tipis yang ditegangkan sebagai penyebab bunyi
Contoh : gendang, conga, drum
3.
Idiophone
:
Badan alat musik itu sendiri yang menghasilkan bunyi
Contoh : triangle, cabaza, marakas
4.
Chordophone
:
Senar (dawai) yang ditegangkan sebagai penyebab bunyi
Contoh : piano, gitar, mandolin
5.
Electrophone
:
Alat musik yang ragam bunyi atau bunyinya dibantu atau disebabkan adanya daya listrik
Contoh : Keyboard
f. Pengertian Karawitan
Karawitan berasal dari kata : ka – rawit – an, rawit artinya halus
1. Karawitan menurut arti katanya adalah Kehalusan
2. Karawitan menurut arti luas adalah Musik
3. Karawitan menurut arti khusus adalah seni suara gamelan yang berlaraskan pelog slendro
g. Pengertian Suara, Desah, dan Nada
1. Suara (Swabawa) : Sesuatu yang kita ketahui sumber bunyinya
2. Desah : Sesuatu yang tidak kita ketahui sumber bunyinya
3. Nada : Suara yang tertentu dan mempunyai jumlah getaran
tiap detik
h. Laras
1. Menurut arti khususnya, Laras adalah : Enak didengar/indah
2. Menurut arti luasnya, Laras adalah : Urut-urutan nada dalam satu gembyangan yang tertentu tinggi rendahnya dan tertentu banyaknya.
Menggembyang adalah bila kita menabuh dengan dua kanan kiri bersama dengan atara 4 nada (mengapit)
Contoh : 123561
Laras Gamelan Jawa memiliki 5 Nada
Satu Gembyangan (1 Oktav) adalah 1200/Centi suara
Tiap satu nada yang satu dengan yang lain mempunyai nada antara atau yang biasa disebut Sruti/Interval
Untuk mencatat suatu seni suara dalam karawitan, digunakan Titi Laras atau Titi Nada
i. Titi Latas/Titi Nada
Dibagi menjadi 2
1. Titi Laras berdasarkan laras:
Adalah titi laras tidak ditentukan oleh frekwensi (banyaknya getaran tiap detik) tetapi ditentukan oleh unda usuk atau perbandingan
Menurut Ki Hajar Dewantara, tonika yang dipergunakan sebagai dasar adalah : 1 2 3 4 5 1 untuk laras Pelog dan Slendro, beliau menamakan titi laras “Sari Swara”
Menurut Bpk. Mahyar Kusumadinata (Bandung) cara membaca titi laras adalah : do ; mi ; na ; ti ; la.
2. Menurut R T Wreksodiningrat membuat system titi laras berdasarkan bilahan gamelan, yaitu : 1 2 3 4 5 6 7
Cara ini dinamakan Sistim KEPATIHAN. Cara ini masih dipergunakan sampai sekarang
Sistim Kepatihan, meliputi :
a) Menabuh Gamelan, meliputi :
- Cara menabuh
- Pembagian tugas tiap ricikan
- Koposisi gending/lagu
- Catatan titi laras gending
b) Seni Suara
- Lagu dolanan
- Tembang/sekar
- Gerong/bawa
j. Gamelan
Ricikan Gamelan adalah satuan dari alat-alat gamelan yang ditabuh
Ricikan Kendang adalah Sebuah Kendang
Nama-Nama Ricikan Gamelan :
1. Rebab
Hanya satu jenis saja. Untuk keperluan dua perangkat gamelan pelog dan slendro dibutuhkan dua buah rebab (satu untuk slendro dan satunya untuk pelog)
2. Kendang
Ada 4 macam, yaitu :
a. Kendang Ageng/Kendang Gendhing dengan diameter 45 cm
b. Kendang Wayangan dengan diameter 40 cm
c. Kendang Batangan (Kendang Ciblon) dengan diameter 33 cm
d. Kendang Ketipung dengan diameter 25 cm
3. Gender Barung
Tiap gamelan slendro dan pelog, mempunyai tiga buah gender, yaitu :
- Satu untuk gender Slendro
- Satu untuk gender Pelog Nem
- Satu untuk gender Pelog Barang
4. Gender Penerus
Tiap gamelan slendro dan pelog, mempunyai tiga buah gender, yaitu :
- Satu untuk gender Slendro
- Satu untuk gender Pelog Nem
- Satu untuk gender Pelog Barang
5. Bonang Barung
Tiap gamelan slendro dan pelog mempunyai 2 buah bonang barung :
- Satu ricikan bonang barung Slendro
- Satu ricikan bonang barung Pelog
6. Bonang Penerus
Tiap gamelan slendro dan pelog mempunyai 2 buah bonang barung :
- Satu ricikan bonang barung Slendro
- Satu ricikan bonang barung Pelog
7. Saron Barung
Tiap gamelan slendro dan pelog, mempunyai dua ricikan,
- Satu untuk laras slendro
- Satu untuk laras pelog
8. Saron Penerus
Tiap gamelan slendro dan pelog, mempunyai dua ricikan,
- Satu untuk laras slendro
- Satu untuk laras pelog
9. Demung
Tiap gamelan slendro dan pelog, mempunyai dua ricikan,
- Satu untuk laras slendro
- Satu untuk laras pelog
10. Slentem
Tiap gamelan slendro dan pelog, mempunyai dua ricikan,
- Satu untuk laras slendro
- Satu untuk laras pelog
11. Kenong
Tiap gamelan slendro dan pelog mempunyai 10 pencon kenong
- 5 Pencon kenong slendro, yaitu bernada : 2 3 5 6 1
- 5 Pencon kenong pelog, yaitu bernada : 2 3 5 6 7
12. Kempul
Tiap gamelan mempunyai kempul komplit slendro/pelog 10 buah
- 5 buah laras slendro
- 5 buah laras pelog
13. Ketuk dan Kempyang
Tiap gamelan slendro dan pelog, mempunyai 2 buah ketuk dan 2 buah kempyang. Untuk ketuk slendro larasnya 2, untuk ketuk pelog larasya 6
14. Clempung
Tiap gamelan slendro dan pelog, mempunyai 2 buah clempung, yaitu :
1 untuk laras slendro dan 1 untuk laras pelog
15. Siter
untuk gamelan slendro dan pelog, jumlah siter ada 2
bentuknya seperti clempung, namun bentuknya lebih kecil
16. Siter Penerus
untuk gamelan slendro dan pelog, jumlah siter ada 2, Bentuknya lebih kecil lagi. Nadanya 1 oktav lebih kecil dari siter
17. Gambang
Tiap gamelan slendro dan pelog mempunyai 2 buah gambang, yaitu gambang slendro dan gambang pelog
18. Suling
Tiap gamelan slendro dan pelog mempunyai 2 buah suling, yaitu suling slendro dan suling pelog
19. Gong
Gamelan Slendro dan Pelog mempunyai 3 buah gong
k. Pengertian Dalam Gamelan
1. Gamelan Seperangkat
Gamelan laras slendro atau pelog yang komplit ricikannya
2. Gamelan Sepangkon
2 Perangkat gamelan Slendro dan Pelog
3. Gangsa
Gamelan yang dibuat dari bahan tembaga dicampur dengan timah
4. Sengganen
Gamelan yang dibuat dari bahan plat-plat besi atau kuningan
5. Wilahan
Bagian dari ricikan gamelan yang dibuat dari logam atau kayu yang berbentuk bilah
6. Plangkan
Bagian dari ricikan gamelan yang dibuat dari pada kayu yang dapat diperinci sebagai berikut
a. Rancakan :
Plangkan pada bonang dan kenong
b. Pangkon :
Plangkan pada demung, saron barung dan penerus
c. Grobokan :
Plangkan pada gender dan slentem
d. Gayor :
Plangkan untuk menggantungkan kempul dan gong
7. Pluntur
Tali – tali pada gender, bonang, slentem, dan lain-lain
8. Klante
Tali-tali pada kenong, kempul dan gong
C. SENI TARI
a. Pengertian Tari
- Haukin menyatakan bahwa tari adalah ekspresi jiwa manusia yang diubah oleh imajinasi dan diberi bentuk melalui media gerak sehingga menjadi bentuk gerak yang simbolis dan sebagai ungkapan si pencipta
- Soedarsono menyatakan bahwa tari merupakan ekspresi jiwa manusia yang diubah melalui gerak ritmis yang indah
- Soeryodiningrat menyatakan bahwa tari merupakan gerak anggota tubuh yang selaras dengan bunyi musik atau gamelan diatur oleh irama sesuai dengan maksud tujuan tari
- Tari merupakan salah satu cabang seni, dimana media ungkap yang digunakan adalah tubuh
b. Unsur Pokok Tari
1. Gerak
Elemen pokok tari adalah gerak. Rudolf Laban pakar tari kreatif menyatakan bahwa gerak merupakan fungsional dari Body ( gerak bagian
kepala, kaki, tangan, badan), space (ruang gerak yang terdiri dari level, jarak, atau tingkatan gerak), time (berhubungan dengan durasi gerak, perubahan sikap, posisi, dan kedudukan), dinamyc (kualitas gerak menyangkut kuat,lemah, elastis dan penekanan gerakan).
Berpijak kepada pendapat di atas, tari terdiri dari unsur gerak sebagai
unsur utama, ruang, waktu, dan tenaga. Fungsi gerak yang dihasilkan oleh
tubuh manusia pada dasarnya dapat dibedakan menjadi gerak keseharian,
olah raga, gerak bermain, bekerja, dan gerak sehari-hari. Pada khususnya,
tari lebih menekankan kepada gerak untuk berkesenian, di mana gerak dalam tari merupakan gerak yang sudah distilisasi atau distorsi.
2. Motif Gerak Tari
3. Motif Gerak Tari Berpasangan Atau Kelompok
4. Ruang
Ruang adalah sesuatu yang harus diisi, ruang dalam tari mencakup semua gerak yang diungkapkan oleh seorang penari terbentuk melalui perpindahan gerak tubuh, posisi yang tepat dan ruang gerak penari itu sendiri.
Ruang bersentuhan langsung dengan penari. Ruang gerak penari merupakan batas paling jauh yang dapat dijangkau penari. Di sisi lain,
ruang menjadi salah satu bentuk dari imajinasi penari dalam mengolah ruang gerak menjadi bagian yang berpindah tempat, posisi dan kedudukan.
5. Tenaga
Ruang gerak penari tercipta melalui desain. Disain adalah gambaran yang jelas dan masuk akal tentang bentuk/wujud ruang secara utuh. Bentuk ruang gerak penari digambarkan secara bermakna ke dalam; desain atas dan disain lantai (La Meri: 1979: 12). Ruang gerak tari diberi makna melalui garis lintasan penari dalam ruang yang dilewati penari. Gerak tari yang diperagakan menunjukan intensitas gerak yang dapat menjadi salah satu indikasi. Tenaga yang diwujudkan oleh gerakan berhubungan dengan kualitas gerak. Hal ini dapat tercermin pada tenaga yang disalurkan oleh penghasil gerak dalam mengisi gerak menjadi dinamis, berkekuatan, berisi, dan menjadi anti klimak dari tensi dan relaksasi gerak secara keseluruhan.
6. Ekspresi
Ekspresi dalam tari lebih merupakan daya ungkap melalui tubuh ke dalam aktivitas pengalaman seseorang, selanjutnya dikomunikasikan pada penonton/pengamat menjadi bentuk gerakan jiwa, kehendak, emosi atas penghayatan peran yang dilakukan. Dengan demikian daya penggerak diri penari ikut menentukan penghayatan jiwa ke dalam greget (dorongan perasaan, desakan jiwa, ekspresi jiwa dalam bentuk tari yang terkendali).
7. Iringan Tari
Iringan dan tari adalah pasangan yang serasi dalam membentuk kesan sebuah tarian. Keduanya seiring dan sejalan, sehingga hubungannya sangat erat dan dapat membantu gerak lebih teratur dan ritmis. Musik yang dinamis dapat menggugah suasana, sehingga mampu membuat penonton memperoleh sentuhan rasa atau pesan tari sehingga komunikatif. Musik dalam tari memberi keselarasan, keserasian, keseimbangan yang terpadu melalui alunan keras-lembut, cepat-lambat
melodi lagu. Pada dasarnya tari membutuhkan iringan sebagai pengatur
gerak.
c. Tari Berdasarkan Konsep Garapan
1. Tari Tradisional adalah tari yang telah baku oleh aturan-aturan tertentu. Dalam kurun waktu yang telah disepakati, aturan baku diwariskan secara turun menurun melalui generasi ke generasi. Tarian jenis ini telah mengalami perjalanan cukup panjang, bertumpu pada pola garapan tradisi yang kuat. Tari jenis ini biasanya memiliki sifat kedaerahan yang kental dengan pola gaya tari atau style yang dibangun melalui sifat dan karakter gerak yang sudah ada sejak lama. Tari-tarian tradisional yang dilestarikan oleh generasi pendukung biasanya sangat diyakini atas kemasyalakatannya. Masyarakat yang mau terlibat di sini ikut andil dalam melestarikan tari tradisional melalui rasa tanggung jawab dan kecintaan yang tidak bisa dinilai harganya. Masyarakat yang bersangkutan memandang bahwa tarian jenis ini menjadi salah satu bentuk ekspresi yang dapat menentukan watak dan karakter masyarakat yang mencintai tarian tersebut. Dengan demikian tergambar perangai, kelakukan dan cermin pribadinya.
a) Tari Primitif
Tari primitif merupakan tari yang berkembang di daerah yang menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Tarian ini lebih menekankan tari yang memuja roh para leluhur. Pada jaman ini jenis tarian ini sudah mulai tidak kedengaran lagi gaungnya.
b) Tari Rakyat
Tari-tarian yang disebut pada bab ini adalah tarian yang hingá kini berkembang di Daerah yang bersangkutan. Masalah pembagian apakah
termasuk fungsi dan peran yang dimiliki tidak diperhitungkan.
- Aceh dan Sumatra Utara kental imbas pengaruh Melayu. Ciri dan
bentuk tari lebih dekat ke rumpun tari Melayu. Pengaruh agama Islam yang kuat. Gerakan tarinya lincah dan gesit,namun tidak ekspresif. Pakaian menutup semua anggota badan (aurat) dan iringan menggunakan alat musik sederhana dengan tepukan tangan sebagai pelengkap instrument.
Misalnya : Daerah Sumatra Utara (Sumut) tari Tor-tor gerak merapatkan dan mengembangkan ke dua telapak tangan sambil bergerak di tempat dan geser kaki, Tari Cawan dengan membawa cewan di atas kepala. Tari Serampang Dua belas dengan gerak berpasangan muda mudi yang sedang berdendang. Tari Manduda, Tari Kain, Tari Andungandung, Tari Angguk, Tari Tari Mainang Pulau Kampai, Tari Baluse, Tari Tononiha, Tari Terang Bulan, Tari Pisu Suri, Tari Baina, Tari Tari Barampek, Tari Basiram Tari Bulang Jagar, Tari Buyut Managan Sihala, Tari Cikecur, Tari Kapri, Tari Karambik dll.
- Bali
Mempunyai sifat gerak dan iringan yang mengesankan. Gerakan tari tegas dan ekspresif. Semua anggota badan digunakan untuk mengekspresikan makna dan misi tari sehingga terkesan sakral.
Penari Pria menggunakan celana panjang sampai lutut yang dibalut kain warna cerah atau kotak – kotak hitam putih, dan ikat kepala atau kuluk bersulam benang emas. Penari wanita menggunakan kebaya panjang, berbalut selendang sampai dada dan memakai hiasan kepala
- Sulawesi
Didominasi oleh penari wanita yang memiliki perwatakan lembut. Iringan kontras menggebu-gebu terutama instrument gendang yang dimainkan oleh seorang penari. Pakaiannya baju kurung dan ikat pinggang keemasan.
- Jawa dan Sunda
Teknik tari Jawa dan Sunda meliputi hal-hal sebagai berikut :
§ Semangat bathin yang member kekuatan gerak, daya tahan dan kemantapan ekspresi
§ Sadar akan harga diri,yang memancarkan keagungan, kewibawaan, berisi,kepastian,keberhasilan dan kesempurnaan sikap
§ Kemanunggalan lahir bathin, pemusatan kendali ekspresi kepribadian yang bulat
§ Kukuh tak bergeming dari kemantapan, tak goyah atas segala gangguan
c) Tari Klasik adalah tari yang berkembang di kerajaan-kerajaan yang
telah ada di Indonesia. Puncak tari klasik terdapat pada kerajaan di
Indonesia khususnya di yogyakarta, Surakarta, Kasepuhan Cirebon, kerajaanbone, Kerajaan Mataram Kuno, dan Kerajaan Klungkung di Bali.
Tari Non Tradisional adalah tari yang tidak berpijak pada aturan yang sudah ada seperti tari tradisional. Tari jenis ini tari pembaruan. Tari nontradisional lebih mengungkapkan gaya pribadi. Contoh tarinya adalah tari karya Didik nini towok misalnya tari wek-wek, persembahan. Tari karya Bagong Kussudihardjo misalnya tari yapong, wira pertiwi. Karya Wiwik Widyastuti tari cantik, tari karya Abdul rochem tari Gitek balen, tari nandak ganjen karya Entong sukirman dll.
d. Fungsi Tari
a) Tari Sebagai Sarana Upacara
Ciri – ciri :
1. Hidup dan berkembang dalam tradisi yang kuat, sebagai sarana untuk persembahan
2. Sebagai sarana memuja dewa (keagamaan) yang berarti bersifat sakral,
3. Bersifat kebersamaan dan diulang-ulang.
Misalnya :
- Upacara maju perang : Mandau (Kalimantan)
- Upacara panen : tari Pakarena (Sulawesi Tenggara) dan tari Manimbon (Toraja)
- Upacara khitanan : tari Sisingaan (Jawa Barat), tari Jaran Buto (Blitar)
- Upacara mengusir roh atau mengusir penyakit : tari Sang Hyang (Bali), tari Mabugi (Toraja)
- Upacara menjemput tamu : tari Reyog Ponorogo, tari Reyog Dodog (Tulungagung), tari Pendet (Bali), tari Cakalele (Maluku)
b) Tari Sebagai Sarana Hiburan
Ciri – ciri :
1. Mood yang bergembira ria
2. Unsur gerak sederhana dan bebas
3. Pakaian bebas
4. Mudah melibatkan peserta lainnya
5. Relatif mudah dipelajari
Contoh :
Tayub (Jawa Tengah & Jawa Timur), Ketuk Tilu (Jawa Barat), Gandrung (Banyuwangi), dll
c) Tari Sebagai Sarana Seni Pertunjukan
Ciri – ciri :
1. Pola garapannya merupakan penyajian yang khusus untuk dipertunjukkan
2. Adanya faktor imajinatif/kreativitas
3. Adanya Ide yang mengandung dan mengarah pada bentuk pementasan yang professional
4. Lokasi pementasan berada ditempat yang khusus
Contoh :
Tari Gambyong (Surakarta), Golek (Yogyakarta), dll
e. Beberapa tarian daerah di Nusantara
· Serampang dua belas
Menggunakan irama samba, tempo cepat, teknik tarian ini menunjukkan kelembutan. Yang terasa dalam langkah dan penampakan kaki. Arah geraknya vertikal.
· Jaipongan
Menggunakan irama gendang, pencak sunda. Diperkuat dengan musik tanjidor. Teknik Jaipongan menitik beratkan pada langkah kaki. Gerak pinggul merupakan penyedap.
· Ngrema (rema)
Tarian khas Jawa Timur. Kerincing pada pergelaran kaki adalah khas yang merupakan bagian dari teknik tarian ini. Penari tidak hanya menari namun juga harus menyanyi“blenderan Surabayan”. Tarian ini pada awalnya adalah tari tunggal.
f. Beberapa Koreografer Tari Indonesia
1. S.D. Humardani (1923-1983) Sering dijuluki : Sang pendobrak seni tradisi, sang gladiator, Begawan seni tradisi, budayawan.
Hasil karyanya : Pemadatan Tari Bedoyo, Srimpi Dan Gambyong. Sendratari ronggolawe gugur. Babad Pajang. Sketsa III
2. Tjetje Soemantri (1891 – 1963), pengubah peta tari Sunda.
Hasil karyanya : tari Dewi, tari Anjasmoro, Topeng Menak Jinggo, dll
3. R.I. Sasmito Mardono, mengembangkan tari menak gaya Yogyakarta
Hasil karyanya : tari Golek Ayun-Ayun, Beksan Menak Umarmoyo Umarmadi, dari golek tinembe
4. Bagong Kussudiardjo
Tokoh tari kreasi baru yang telah menciptakan idiom-idiom gerak baru yang lebih mudah menembus perasaan. Selain koreografer, beliau juga sebagai pelukis.
5. Sardono W.Kusumo
Terkenal dengan jenis – jenis tarian yang mencoba menggunakan si penari dengan lingkungan sebagai instrument pernyataan tari. Sehingga beliau paling jauh melangkah mencari bentuk yang baru. Beliau lebih mengutamakan gerak daripada titik- titik henti berupa pose-pose
6. Hurijah Adam
Berasal dari Sumatra. Beliau lebih menekankan pada kreasi music – musiknya. Terutama pada pencak Minang, dan mengolah bungo – bungo pencak menjadi tari
alfian pranata di 18.43
Berbagi
Langganan:
Postingan (Atom)
Merencanakan Pameran Rencana sebuah pameran perlu dirancang secara sistematis dan logis agar pada waktu pelaksanaannya berjalan lancar. Ta...
-
TEMA TARI Secara garis besar tema tarian dibagi menjadi 6 yaitu: 1. Tema Imitatif 2. Tema pantomim 3....
-
B. Unsur dan Obyek Karya Seni Rupa Seorang perupa (seniman, desainer, kriyawan, perajin, dsb.) mengolah unsur-unsur seni rupa fisik dan n...
-
SENI RUPA a. Apresiasi Seni Apresiasi berasal dari Bahasa Latin, Appretiatus yang artinya penilaian/penghargaan. Apresiasi...